7.10.14

Things I Could’ve Missed


Each of human beings (normally) given a pair of eyes. They could only see what’s visible. You  may hear that some others have their abilities to see something generally unseen. But luckily (yeah, i call that a luck), i’m not those some others. I’m just another ordinary human beings. I also am given a pair of eyes that can see visible things. Those eyes function as well, but actually there’s one thing i might regret having.


My eyes can’t see what’s going on behind me.


When i ask everyone why can’t I see behind, they just tell me that it’s like i’m asking why the earth rotates. They say that’s how the life works. It manipulates you, make you seem smarter and foolish at once. While you’re doing something, somebody out there might have done their own stuffs without your permission and you would have no idea how far those stuffs had gone.

I’m sad knowing my eyes could only be used to look forward.

And here i am starting to brag. Not that i’m not grateful. But as a human, i’m given rights to wish some wishes that nobody could assure will they be granted. What do I wish for? I wish i witness thing i shouldn’t have missed. I wish i could reveal secrets that are concealed from me, secrets that recognize me as a stranger. But again, I’m only human. And wishes that I’ve wished seemed to be impossible. Those wishes belong to God, and did I just wish myself to have God’s power? I know the answer is a ‘heck no’. As a human being i could only speculate, i could only think about relativity including all the maybes and perhaps it makes.

So, if I should sum up it all and make some conclusion, then it goes like this.

We are all human beings. We know we were born for some reasons, but we never know what and which reason. But let me tell you what I thought, this might break your heart so you better switch the tab or lost to somewhere else. I’m going to say that you can’t have everybody on your side, no matter how much they mean to you. It might be they don’t feel the same about you and they just wanna get rid of you from the very beginning. And another miserable fact is, that you can’t easily know what you wana know. Some facts are purposedly hidden from you, don’t care if it’s good for you or bad for you, they are just hidden that sometimes you have to put yourself on a long and painful journey to finally unveil them.

One day, we’ll come up that we are already drenched of sweats that we want to give up but we can’t. We can’t because we keep on reminiscing the past and replay the once-thrown-to-the-garbage cassette. That day we finally know that we’ve been a foolish for too long. We’re tricked by not-so-smarter-than-you trickster and we regret for being so stupid. We’ll start to blame on life why didn’t it give us more eyes to see, maybe some eyes that work like radar so we could easily know just anything that goes on. We’re warned whenever the danger comes so we could anticipate for any kinds of destruction.

But, we aren’t meant to work like that. We’re all human, and we’re meant to be heartbroken. Sometimes we learn, sometimes we cry, and the rest we spend by regretting. I proposed for a radar to God but He seems like taking it as a joke, and i hate that. I hate that because of me--my wish, all of us don’t have that kind of radar, that we can’t anticipate and we could've finally invaded then eventually destructed into pieces. Disposable ruins.

Look at us, look at me how fragile and breakable I am. You could just break me up if you want to and I won’t be angry since I’m too an understanding.



So, in the end I know I could only wish I don’t miss a thing. Whether it's forever a wish....i never know.

4.8.14

Aged

Aged (Another Birthday Post)
Lydia Annisa
August 2nd 2014, 9:59 am.

******

As the tide washed in, the Dutch Tulip Man faced the ocean: “Conjoiner rejoinder poisoner concealer revealator. Look at it, rising up and rising down, taking everyone with it.”
“What’s that?” I asked.
“Water,” The Dutchman said. “Well, and time.”
An Imperial Affliction, Peter Van Houten


Doa dan harapan. Bahwa dalam kehidupan nyata, tidak semua doamu didengar dan tidak semua harapanmu diwujudkan. Kita tidak akan pernah tau doa siapa yang didengar dan harapan siapa yang dikabulkan, maka bersikap baiklah kepada semua orang. Bisa jadi orang yang kau benci adalah juga orang yang didengarkan doanya. Bisa jadi orang yang kau benci adalah juga orang yang membuat hidupmu kini bahagia. “Dunia ini bukan pabrik pewujud keinginan.”

Doaku saat itu...tidak dikabulkan.
Jam itu berdenting lagi. Belum di dua belas. Aku masih bergeming menatap langit-langit ruang balok ini, teringat malam yang diiringi doa-doa dan segala tetek bengeknya. Lagu yang kembali diputar, lagu berkekuatan magis yang dengan sekenanya memutar balik segala sesuatu jauh pada masa sebelum cahaya. Menjungkir balikkan pendengarnya, menempatkannya pada satu seat roller coaster dan membawanya berlari, berpacu dengan  angin. Kembali dilewatkan pada sejumlah pigura berisikan momen-momen berharga yang entah siapa sudi mengabadikannya. Membuat pengengarnya kembali teringat. Di hari ini, tepat setahun yang lalu. Segalanya masih terasa utuh, aku dan mereka dan semua yang kehadirannya amat kusyukuri. Semua hal yang saat itu kudoakan agar bahagia, orang-orang yang kuharapkan untuk tidak pergi. Aku hanya bertanya-tanya, bagaimana orang-orang dengan keindahan sedemikian hanya sempat singgah dan tak bisa tinggal? Bagaimana orang-orang ini penuh dengan kesesaatan. Semu.


Namun biarlah. Sebab mereka, menuntunku kembali disini. Teman-teman, aku merindukan kalian.

Satu pertanyaan: What’s so sweet about seventeen?
Ini buat yang ngerti aja ya, setahun terakhir, umur tujuh belasku yang kurasa tidak ada sweet-sweet nya malah membuatku ingin menangis. Saat mengingatnya, aku kembali melihat diriku yang menyedihkan berusaha mengais harapan akan sesuatu. Yang ternyata berujung sia-sia (finally said it). Seperti yang kamu tahu, banyak usaha di dunia ini yang tidak membuahkan hasil, maka jika yang berusaha saja tidak berhasil, bagaimana dengan yang tidak berusaha? Aku mengatakannya karena aku TIDAK percaya pada keberuntungan, aku hanya percaya kerja keras.

Somebody told me that “Almost is never enough, but on our way to the ‘almost’ we must have learnt a lot”. Apakah mudah menerima kalimat tersebut? HECK NO. Aku marah saat mendengarnya, karena aku tidak terima. Aku tidak menyukai ‘hampir’. Aku tidak akan menjadi ‘hampir’ untuk kesekian kalinya. Ini ‘hampir’ yang membuatku nyaris gila. Dan untuk menerima kenyataan itu, aku hanya harus berdamai dengan diriku. Hal yang ternyata sulit. Sudah terlalu banyak aku menyalahkan diri atas segala sesuatu yang kurasa tidak seharusnya dipersalahkan. Namun ya sudahlah, each story has an end anyway. Sudah kubilang ini buat yang ngerti aja :)



Dan bagaimanakah satu tahun mendatang? Would it be sweet-eighteen?

Semua ini akan kembali pada malam ketika aku tidak bisa tidur, jantungku berdebar luar biasa. Kembali terkapar di ranjang dengan headset terpasang tanpa lagu. Bolak-balik menatap layar dengan interval 1 menit, berharap seseorang dari jauh memberi kabar. Tapi dia, tidak disana. Tidak di layarku. Aku gelisah namun juga setengah mengantuk. Hingga akhirnya kuputuskan untuk tidur.

Lima belas menit saja setelah aku berpikir betapa konyolnya pengharapanku. Aku telah tersakiti pikiranku sendiri. Lima belas menit tertidur. Dan kemudian, lagu itu bernyanyi. Terlalu keras untuk seseorang yang tanpa sengaja menyalakannya di hari selarut ini. Seseorang mengetuk pintuku beberapa saat kemudian. Dan aku, yang setengah hidup mengumpulkan nyawa, dengan  rambut berantakan macam bujang ganong, muka bantal, mata belekan, tanpa sempat berkaca, aku keluar mencari tahu siapa dibalik pintu.

“Selamat ulang tahun!”



Dia.
Dia.
Dia.
Tidak di layarku.
Dia disana, dibalik pintu kamarku.
Seseorang yang bahkan kami tak sempat berkenalan. Yang datang cepat-cepat memasuki hidupku dan tiba-tiba tak kurelakan pergi. Dia yang terus berlari meninggalkan masa lalu, yang selalu ingin kuseka keringatnya untuk kutuntun berjalan. Dia yang lelah. Basah kuyup. “Andai aku bisa menjadi tempat yang teduh.”

“Sinyalnya jelek lho, nyari sinyal sampe sini.” Katanya dengan cengiran signature-nya. Dia terlihat berantakan sekali. Senyuman ke kiri yang diam-diam kurindukan. Yang kubalas dengan jurus tendangan samping ala anak kempo kemudian, tepat di tulang keringnya.

Aku kembali bingung. Aku yang masih terbengong-bengong mengingat ini belum jam dua belas dan mengapa semua orang melakukan ini dan mengapa ada dia disini dan mengapa aku tidak siap dan seluruhnya. Tidak ada yang kumengerti jika ini bukan mimpi.

Hatiku diliputi perasaan hangat seketika. Aku ingin menangis, menghambur ke pelukan mereka untuk kesekian kalinya. Betapa hari-hariku yang buruk ternyata memiliki akhir bahagia, mereka, dan dia. Ya Tuhan, apa aku sudah tidak bersyukur?

Semua pun menyuruhku berdoa. Sedetik, aku terdiam. Aku takut berdoa, didepan semua orang ini. Didepan kue, dan lilin. Semacam trauma akan doa yang tidak diwujudkan. Namun aku tahu, seperti semua kenangan buruk, semua harus ditelan bulat-bulat. I prayed, anyway. Untuk diriku, untuk semua orang, untuk semesta. Semoga kita semua hidup dengan saling menghargai. Semoga kita semua dianugerahi bahagia.


Aku terlalu bersyukur atas hari itu.


Aku memiliki segalanya.




**


Dan, ya. This is just another birthday post FYI. Sebuah kenyataan pahit atau menyenangkan, aku tidak tahu. Aku sudah pernah membahas hal ini dengan seseorang diluar sana, betapa menjadi tua itu benar-benar hukum alam dan menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Ada kalanya kamu belum cukup tua namun dituntut untuk dewasa, dan ada kalanya kamu sudah tua namun dihadapkan pada hal kekanak-kanakan. Sekarang, aku sudah besar. Bukan tujuh belas lagi, tapi tujuh belas tambah satu. Aku delapan belas tahun woy (nyalain kembang api: dziuuuuu jdarrr), sudah tidak bisa dibilang anak kecil lagi. Namun dewasa juga belum, ah bagaimana ini aku di umur transisi.

Jika ditanya siap atau tidak siap, jelas aku tidak siap. Sayangnya siap atau tidak siap pun berubah menjadi pernyataan “Siap atau tidak, ini dia delapan belasmu”. Hah, hidup tidak pernah bertanya dahulu. Aku benci pernyataan -_-

Menjadi 18 adalah dimana kamu dituntut untuk dewasa, mengerti segalanya, meningkatkan iritabilitas atas segala sesuatu, dan mulai membentuk diri menjadi wanita. Literally, wanita. Dan siapalah aku ini untuk menjadi seorang wanita seutuhnya? Masih begundal begini. Tidak bisa berpakaian dengan benar, tidak bisa memasak, tidak bisa menyetir, tidak bisa momong anak kecil (well i only interact with well-speaking person), tidak bisa merias diri, tidak mengenal bedak (apa itu bedak?),. I started to wonder why girls have to hurt themselves just to look pretty in the morning? Why don’t you just show who you really are and let people decide whether they like you or not? ‘Cause being liked or disliked are no longer your concern, it’s their rights. But when it comes to reasons,reasons in the wall,  I don’t know what’s right and wrong anymore.

Mungkin, setahun lagi aku tidak lagi disini. Mungkin aku tidak sempat menulis birthday post lagi, mungkin ini yang terakhir. Mungkin, masa remajaku sudah di masa tenggangnya. . Bahkan bisa jadi, aku akan kehilangan semua hal yang secara harfiah disebut kesenangan. Dan semua kemungkinan lain yang terlalu menyedihkan untuk disebutkan.

Selain akan hidup di lingkungan Universitas (meen bentar lagi ini ingus jadi anak kuliahan) I’ll be in the University of Life. Dimana aku menjadi presiden akan kehidupanku sendiri, and rely on nobody. Hidup akan segera dimulai, yang aku tahu karena ia membuka gerbangnya sedikit untuk kuintip. I’m totally excited of what’s coming up next in my life!!

Aku sadar bahwa masih ada begitu banyak hal yang perlu kupoles. Caraku menyelesaikan ini itu, caraku menghadapi hidup yang sesungguhnya (yang membuatku tidak yakin apakah hidupku sebelum-sebelumnya bukanlah ‘hidup yang sesungguhnya’). Maksudku, lihatlah aku. Kumal, berantakan, berisik, masih suka meracau soal karakter fiksi yang tidak dapat dimengerti orang lain,  masih punya teman khayalan, dan semuanya. Bocah ini (tunjuk jidat sendiri) akan menjadi anak kuliahan yang dituntut untuk serba sistematis, yang kemudian dia bertanya “Nanti kalo ujian kertas soalnya boleh digambar-gambarin gak?”. Ah, aku juga lelah mengatasi bocah ini. Kadang aku lelah dan ingin menjadi orang lain. Pernah kucoba, dan ternyata lebih membosankan. Yang membuatku menyadari bahwa, ternyata hidupku indah, tidak membosankan, penuh karakter lucu seperti jamur bicara dan kuda poni dan unicorn. Dan Gumball dan Darwin. Hal-hal yang tidak kutemukan di hidup orang lain.

Kadang ketika kesempatan datang padaku, yang kulakukan hanyalah ingin menghindar. Bersembunyi menunggu saat yang paling tepat--yang rasanya tak pernah datang. Tetapi semua orang sudah mendapat gilirannya, dan ini giliranku. Tidak bisa ku pass ke siapapun karena tidak akan adil bagi semua orang. You’ll only get one shot and this is the time to do something right. Just dunk your ball to the ring and make some numbers.


I’m ready.


28.6.14

Jika Kamu Bukan 'Politikovora'


First of all, JIKA KAMU MERASA NGGAK SUKA POLITIK DAN SEGALA BAHASAN TENTANG POLITIK, I'M SURE YOU GOTTA THINK THREE TIMES.



Pesta demokrasi di Indonesia super rame yah! Sumpah ngerasa beruntung banget berada di lingkungan orang-orang yang peduli terhadap pasang surut politik negaranya. It was fun, but somehow the intricks tickle me either. Kali ini saya bakal bahas soal politik menjelang pemilihan presiden di Indonesia, jangan berharap bahasan tinggi-tinggi karena saya bukan pakarnya. Politik itu bukan bidang saya, bukan makanan sehari-hari. Jadi heat menjelang pilpres ini sedikit banyak membuat saya terbiasa dan mau tidak mau ikut-ikutan terlibat juga ngomongin politik. “And this heat makes us forget for a while how our current president sucks” (Revolutia said)

Jadi, 9 Juli nanti saya (kita semua deng) akan memilih Presiden yang akan menggantikan Presiden kita yang sekarang ini. Ada dua pasangan capres dan cawapres yang sekarang ini bener-bener jadi pembicaraan, bahkan bulan-bulanan masyarakat dan media massa. Sudahkah kamu menentukan siapa yang akan kamu pilih nanti? Jika ya, alhamdulillah, better keep it in mind. Jika belum, ada baiknya untuk mempelajari seluk beluk calon pemimpinmu lebih dalam. Karena berdasarkan pengalaman saya waktu pemilihan legislatif dulu, i really got nothing to do but nyoblos membabi buta karena gak kenal nama siapapun di kertas segede gaban (yang kalo dibuka penuh bisa menuh-menuhin bilik suara) (yang bisa aja keliatan dari luar dan dicontek orang) (ah sudahlah..). Waktu itu saya benar-benar tidak mengerti bagaimana cara kerja mereka-mereka yang saya pilih itu dan apa untungnya untuk saya, jadilah saya ngawur milihnya.

Dan di pilpres kali ini, saya nggak mau kaya gitu lagi. Saya bertekad untuk benar-benar mempelajari keempat calon ini secara mendalam karena orang-orang inilah yang nantinya akan membawa perubahan pada Indonesia kita. Indonesia kita yang sekarang terasa amat membosankan, yang mulai kehilangan Pancasilanya. Maka mulai dari sekarang, mulailah kalian membaca, bertanya, dan menyimak keadaan sebanyak-banyaknya.

Well, sekali lagi saya bukan Politikovora. Namun hal-hal yang saya lakukan dalam rangka tindakan preventif mencegah salah pilih mungkin dapat dicontoh..




1. Nonton debat dari awal sampai habis, walaupun terlihat membosankan dan salah satu calon menang telak.
Debat merupakan salah satu cara agar kita dapat menerawang lebih jauh tentang bagaimana seseorang beropini, menyampaikan pendapatnya. Melalui debat kita dapat melihat intelijensi seseorang dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan kondisional yang disampaikan oleh si moderator, dan akan terlihat apakah si calon benar-benar memahami permasalahan dalam pertanyaan atau hanya mengumpulkan pengetahuan-pengetahuan dasar dari apa yang ia ketahui berhubungan dengan permasalahan tersebut.
 
Seluruh pertanyaan tersebut erat kaitannya dengan kehidupan memimpin dan bermasyarakat, serta isu-isu global terkait dengan hubungan internasional negara kita. Maka dengan mendengarkan jawabannya, saya rasa cukuplah bagi kita untuk mengetahui di permukaan tentang way of thinking-nya para kandidat dalam menyelesaikan permasalahan yang mungkin muncul pada saat dia memimpin nantinya. 

Sedangkan what matters the most adalah kembali pada bagaimana si calon menjawab pertanyaan-pertanyaan impromptu, yang juga bisa kita artikan sebagai keadaan mendadak. Paling tidak jika dia bisa menjawab pertanyaan dengan baik (literally good), bisalah kita menganggap bahwa dia mampu dan siap untuk semua keadaan darurat yang mendadak. 


1,5. Nonton debat sambil buka timeline.
Terlepas dari asyiknya nonton debat, saya sarankan untuk buka timeline media sosial apapun sesaat atau setelah penyampaian jawaban. Karena pengisi timeline adalah gabungan dari berbagai jenis masyarakat, Bhinneka Tunggal Ika dalam skala kecil lah intinya. Sehingga selama berjalannya debat, atau setelah penyampaian argumen kedua calon kita dapat melihat how people interprete about what they’ve just seen on TV. Dan itu menyenangkan dibanding terjebak dengan pemikiran-pemikiran sendiri yang kadang nyesatin. Dengan melihat bagaimana masyarakat menyimpulkan, in the end of the day kita juga akan menyimpulkan, right? 



2. Lihatlah siapa calon yang dipilih oleh sosok idolamu. 
Ini hal yang ratingnya paling atas buat saya. Sebagai politic-rookie, yang gak punya basis apa-apa soal politik, apa lagi sih  yang bisa saya lakukan selain baca hasil pemikiran orang tentang politik itu sendiri?

Saya suka penulis-penulis muda yang berpikiran bebas dan anti-egosentris, yang tentunya objektif. Saya follow update-an dia di sosmed manapun, semua artikelnya saya baca khususnya yang berbau politik berkaitan dengan pilpres ini. Dan ini benar-benar membantu saya dalam memilih, karena mereka menyampaikan keberpihakan mereka secara beralasan. Dan alasan tersebut elegan karena didasari oleh fakta. Dan saya suka.

Namun saya tidak recommend mereka yang memihak pada satu sisi tanpa alasan yang konkret, tidak berdasarkan fakta, apalagi hanya ikut-ikutan. JANGAN PERNAH mengiyakan argumen kosong yang nggak ada dasarnya. Jika kamu ingin menilai seseorang, nilailah apa yang telah dia lakukan, bukan apa yang akan dia lakukan. Cause we know everyone has a dream, with ways that sometimes not lead us to our destination. Paham ga? Paham ya :D *maksa*


 
3. Tanyalah mereka yang sudah memilih, mengapa mereka memilih calon tersebut?  
I once had friends, dan saya rasa mereka sudah tegas memilih siapa calon yang mereka pilih. Saya yakin kalian juga begitu, tidak mungkin tidak. Maka dari itu sempatkanlah waktu untuk bertukar pikiran tentang pilihan mereka. Namun pertama-tama berilah ackowledgement bahwa kamu gak ngerti apa-apa soal politik dan pengen banget belajar. Berilah lawan bicaramu mindset bahwa kamu adalah kertas kosong yang siap ditulisi dan diberi poin-poin yang perlu diingat, sehingga ia tidak merasa diintimidasi atau merasa kamu mencoba mengorek kelemahan calon yang ia pilih untuk dijadikan bumerang. Kemudian tanyalah tentang mengapa dia memilih calon tersebut, jangan mencoba membenarkan anggapan apapun yang dia sampaikan. Walaupun kamu keras kepala, cobalah untuk berkepala dingin dan memborgol setan-setan dikepala biar gak kabur saat kamu memiliki pemikiran berbeda. Intinya, posisikan dirimu sebagai seorang pendengar, seseorang yang lagi dicurhatin. Jika dia sudah selesai berpendapat, maka simpulkanlah.


 
Sounds easy, ha? Iya.

Jadi, let me suggest you kalau pemilu tahun ini jangan golput lagi. Karena sebenarnya kamu akan lebih dekat dengan Presiden daripada dengan legislatif. Dialah yang nanti memberikan influence pada kamu dan keluargamu. Dialah yang nanti menjadi The Man of Indonesia, yang baik buruknya negara ini—all the burdens are on his shoulder. Yang nantinya akan kita serbu kalau dia salah, dan kita sanjung kalau dia benar. Jika kamu golput, maka kamu tidak memiliki hak itu, untuk mengkritisi. Karena kamu tidak memilih sebelumnya, kamu tidak berpihak pada siapapun dan how on earth can you blame one side (which means actually you’ve decided, but you don’t show it)? Because that someone in the guilty side might happen standing there because of your own fault of not choosing. See? Semua orang memiliki peluang untuk menjadi yang bersalah, maka dari itu benarlah frasa bahwa ‘satu suara anda menentukan masa depan bangsa ini’, who knows kalau calon presiden yang seharusnya membawa berkah gagal menjadi presiden hanya karena kalah satu suara—yang ternyata itu adalah suaramu yang tidak kamu gunakan, dan digunakan orang lain untuk memihak di sisi yang lain.

It’s okay to be a rookie ‘cause that means you're someone who gotta learn more and more, maybe much more than those experts. So, know the candidates and use your voice wisely.
Happy voting!!