Showing posts with label Lyric. Show all posts
Showing posts with label Lyric. Show all posts

27.1.15

Been Through Dulls and Lulls




Malam ini aku muter Payphone sampe budek.
Sampe hafal chordnya, rapnya, di bagian mana Levine ngambil nafas, di menit keberapa Wiz Khalifa ngomong "Now it's me who they want, so you can go and take that li'l piece of shit whit you.", dan semuanya.






Aku sudah lama menghafal lagu ini diluar kepala,
namun rasanya baru kali ini benar-benar merasakannya.

16.4.14

11.21pm

Selamat tidur, masa kecilku...

Janji Sepotong Lilin



Pernahkah kau mengalami saat dimana kau bertemu seseorang, dan merasa 'dialah orang yang Tuhan maksudkan'?

***

Aku hampir ingin mempertegas kalimatku, hampir juga memperkuat alasanku. Demikian hebatnya keinginanku untuk pergi kesana hingga semua orang bertanya-tanya apa yang sebenarnya kuinginkan.Mungkin kalian juga, apa yang sebenarnya kuinginkan? Jika kalian ingin kejujuran, maka akan kuberikan kebenaran jawaban atas pertanyaan itu.

Kebenaran itu adalah...
Aku. Ingin. Mengejarnya.


Awalnya hanya itu. Alasan bodoh nan konyol ala gadis kecil ingusan yang sok tahu soal agama. Alasan terselubung dibalik 'Aku ingin memperbaiki kehidupanku' yang terpoles manis dan terucap indah didepan semua orang. Yang benar saja, mana mungkin aku mengatakan alasan sebenarnya dimuka umum?! Bukannya tidak masuk akal, itu sangat masuk akal untukku. Tapi aku hanya akan membenci respon mereka, aku akan membenci bagaimana mereka akan menganggap remeh perasaanku yang terlalu besar untuknya saat itu. Rasa yang tidak seharusnya dimiliki seorang gadis kecil. Dia begitu kuidolakan saat itu, bukan karena ketampanannya, atau dia pintar, atau kaya atau apapun. Hanya sekelumit perasaan senang saat aku diperhatikan olehnya atau saat mengetahui dia berada disekitarku. Aku hanya senang saat kita bernyanyi dan saling mengingatkan lirik kelanjutan yang kita lupa, saat tahu kita menyukai group band yang sama, saat kau bersedia membawakanku setumpuk buku untuk kupelajari sebelum lomba, saat aku bisa melihatmu bercanda dibalik rinai hujan di gedung seberang, saat kau menyapaku terlebih dahulu, saat kau menyontek PR Bahasa Inggrisku, dan semua hal-hal kecil yang membangkitkan semangatku. Singkat cerita, kuputuskan untuk mulai menyukaimu dalam diam. Sejak saat itu hidupku berubah, aku menjadi manusia yang lebih baik, jauh lebih baik hingga semua orang terpesona. Bintangku mulai bersinar karena kaulah energinya.

Hitam putih kulewati dan lambat laun perpisahan sudah didepan mata. Perasaanku bilang kau akan pergi jauh dan ternyata memang iya. Aku tidak bisa berpikir bagaimana hidupku selanjutnya saat kau tak lagi ada. Aku mulai jenuh dan sedih dan terus-terusan murung mengetahui bahwa begitu kecil kemungkinan kita akan bertemu lagi. Begitu jauh kau untuk kutemui, nomormu saja tak berani kusimpan. Hingga muncul satu ide gila suatu hari.


Teman, katakanlah kau ingin pergi ke suatu tempat dimana tempat itu sama sekali belum pernah kau kunjungi. Tempat itu begitu asing dan tak ada seorangpun disana yang mengenalmu. Waktu itu belum zamannya smartphone, hanya handphone. Biaya internet masih mahal dan Google Earth hanya bisa diakses di komputer dengan koneksi stabil. Andaikan aku berangkatpun mungkin akan terasa seperti backpacking, tapi 3-6 tahunan lamanya :p Karena benar-benar tak ada sanak saudara atau siapapun disana, karena jika aku benar-benar mengiyakannya aku akan benar-benar hidup sendirian jauh dari siapapun. Dan voila, proposalku ditolak. Membuatku putus asa dan akhirnya disinilah aku berdiri sekarang ini.



Menahun aku menunggu dan menjaga perasaan ini agar tidak luput dari tanganku. Menahun yang terasa selamanya. Menahun kutunggu kata-kata yang merangkum semua, dan kini kuharap ku dimengerti. Bertahun-tahun yang sedikit ngilu tapi menyenangkan, kuhabiskan waktuku mengenali wajah-wajah baru. Mempertahankan sinar bintangku, berusaha bersinar agar dapat kau lihat di langit tempat kau berada saat ini. Aku selalu tahu apa yang menyibukkanmu, entah bagaimana caranya. Aku mengenali wajah teman-teman barumu disana, yang begitu banyak hingga memusingkanku. Aku selalu terjaga hingga larut pada satu malam setiap tahun, berturut-turut, hanya untuk mengucapkan 'selamat ulang tahun' dan berharap kau membaca, bahkan membalasnya. Namun kau disana seakan tak peduli. Semua kulakukan dalam diam. Diam yang kian lama kian membuatku jengah.

Kemudian aku melakukan hal bodoh lainnya, kupalingkan hatiku dan mulai belajar menyukai hal lain. Aku belajar melupakanmu walau harus bertemu ibumu berkali-kali dan harus selalu melewati rumahmu saat aku akan kerumah temanku yang lain. Setelah kulakukan berulang-ulang, ternyata hal itu membunuhku perlahan. Beribu manusia yang kutemui selalu berhasil memesonaku, namun hanya sesaat setelah kemudian aku kembali teringat padamu. Tak peduli siapapun, apapun dan bagaimanapun aku berusaha berpaling, sungaiku selalu kembali bermuara padamu. Aku tak mengerti. Padahal kau tak peduli, oh, malahan kau mungkin sudah melupakanku. Tapi aku tetap saja begini, tetap selalu teringat olehmu yang begitu indah. Tetap selalu meneteskan airmata saat kulihat catatan-catatanmu di layar, betapa aku amat...sangat merindukanmu dan ingin kau berada disekitarku sekali lagi.


Tapi tetaplah waktu yang selanjutnya memberi jawaban. Kau kemudian menghilang begitu saja, dan kemudian kutemukan sedang duduk dibawah pohon dengannya--seseorang yang sangat kukenal. Aku tak mampu berkata-kata, tak mampu menyandingkan diriku dengannya. Segala ketidaksempurnaan itu milikku, dan dia hanyalah sosok yang sangat-sangat dirindukan masa depanmu. Maka patutlah aku berada disini sekarang ini, hanya berdua dengan buku catatanku, bertiga dengan catatan-catatanmu yang sekali lagi membuat mataku basah.


Oh, sosok yang selalu kuinginkan, yang tak pernah sedikitpun kubenci. Yang membawa mimpi dari kening ke sajadah. Yang sempurna dalam tiap kesederhanaannya, yang mencintai dengan sederhana pula. Yang mengajariku untuk dewasa. Karena jika seandainya bisa, aku tak akan menjadi serapuh ini. Jika seandainya bisa, aku tak harus berada disini dan hanya akan berkutat dengan buku-buku suci hingga tiba waktunya aku menemuimu lagi. Pria kecil berjiwa bocah, tetaplah seperti ini. Tetaplah jadi muara pelayaranku. Aku akan selalu singgah padamu sesekali, saat aku bosan atau merasa terlupa dari dunia ini. Tetaplah selalu menuntunku kembali dijalanNya dan tetaplah membuatku menyesal tak sepenuh hati mengejar kepergianmu di masa lalu. Ini aku, janji sepotong lilin yang terbakar habis demi terangmu.


Maulidia


23.1.14

You never think that maybe He's better out unchased



Beware, ini bakalan jadi pelajaran yang kesekian, and this has been my draft maybe since the diary invented. SO.. how long have you been chasing him? Seberapa lama kamu akan membiarkan hatimu sendiri terus-terusan galau oleh sesuatu yang kamu sebut PHP? WAKE UP GIRLS. PHP itu kamu dan persepsimu sendiri yang ciptain, kamu sendiri yang bikin semua itu jadi overdramatik ga ada endingnya. Karena faktanya, kata peka itu ga ada dalam kamus cowok. Jika kamu berharap sesuatu terjadi, maka kamu harus memulainya sendiri. Kuharap setelah membaca ini, kalian akan sadar that some things you've been chasing for so long could be some things you should've let go since the very beginning. Tanpa bermaksud menggurui, here you go. Think smart, love smart or at least get hurt smart.

--------------------------------------
Kuawali hariku dengan mendoakanmu agar kau selalu sehat dan bahagia disana
Sebelum kau melupakanku lebih jauh
Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh

Tak bisa aku bohong, memang indah ketika aku membayangkan diriku duduk disampingmu. Menyandarkan segala luka dan derita pada bahumu, bercerita tentang kejamnya dunia kepadamu, pendengar setiaku. Kita akan duduk di tempat favorit kita di suatu malam, dibawah bintang gemintang berceritera tentang mimpi yang bisa kita wujudkan bersama, mengikatkan kelingking kita untuk masa depan yang akan kita lalui berdua. Tak bisa aku bohong, memang indah membayangkan kita berjalan beriringan, mematut diri didepan kamera, mengambil gambar kita, dan mencetaknya. Aku berjanji akan memandanginya berulang-ulang, kita berjanji tak akan saling bosan. Aku akan memandangi gambar itu lekat, sebagai penyembuh lukaku, penghilang jenuhku, dan penyemangatku. Tak bisa aku bohong, aku begitu senang ketika ada satu pesan datang dan itu darimu. Hati kecilku melonjak kegirangan karena seseorang sedang teringat akan aku pada suatu waktu. Dan tak bisa aku bohong, semua itu begitu indah untuk jadi nyata.

Akulah gadis yang kan selalu memujamu, menikmati indahmu dari sisi gelapku
Dan biarkan aku jadi pemujamu jangan pernah hiraukan perasaan hatiku
Tenanglah tenang, pujaan hatiku sayang
Aku takkan sampai hati bila menyentuhmu

Namun, akankah semua sama jika aku sungguh memilikimu?

Mungkin kau takkan pernah tahu betapa mudahnya kau untuk dikagumi
Mungkin kau takkan pernah sadar betapa mudahnya kau untuk dicintai

Getaran itu takkan ada lagi. Gejolak hatiku akan perlahan redam dimakan waktu, sebab semua itu akan terasa begitu biasa..hanya karena satu hubungan yang kita anggap berarti. Mungkin iya pada awalnya, kita berdua orang paling bahagia di dunia. Namun kita tahu kita tak selamanya akan bahagia, sebab sesungguhnya kita telah akan membuka sebuah perjalanan baru. Seiring dengan semua yang akan kita lalui bersama, kita akan merasa kita sudah berada di ujung pengetahuan kita satu sama lain. kita tak akan saling penasaran dan saling bertanya-tanya tentang banyak hal yang dulu sering kita perdebatkan. Kita tak akan saling salah tingkah jika kita bertemu. Kita juga tak perlu momen spesial untuk mengutarakan semua perasaan kita masing-masing. Karena, lama kelamaan semua akan terasa biasa. Aku akan biasa bertemu denganmu, biasa bercakap-cakap bersamamu, biasa berada disampingmu, biasa mengetahui apa yang kau lakukan, biasa mendapat pesan darimu (yang dulu itu kuanggap satu momen yang harus dicatat rekor muri), dan biasa atas semua perlakuan manis yang kamu berikan.
Aku, tak mau kita menjadi biasa.
Karena hanya dengan perasaan rinduku yang dalam padamu ku pertahankan hidup
Maka hanya dengan jejak-jejak hatimu, ada arti ku telusuri hidup ini
Aku ingin kau selalu spesial di mataku. Setiap kali kau berjalan melintasiku, aku ingin hatiku selalu berdebar tak karuan berharap kau menengok dan menyadari aku telah lama ada disana. Saat aku sibuk dengan duniaku, aku ingin satu panggilan darimu menyadarkan dan memenangkanku semena-mena. Kedua mata itu, aku ingin selalu melihat mereka tersenyum teduh. Senyum tawa jenaka yang selalu ingin kumiliki itu, aku selalu ingin berharap bahwa suatu saat tawa itu untukku dan karenaku.
Selamanya hanya ku bisa memujamu
Selamanya hanya ku bisa merindukanmu

Aku selalu ingin memilikimu, walau itu berarti aku tak pernah bisa memilikimu.
Jadi aku memutuskan aku ingin selamanya memilikimu saja, karena itu berarti aku akan selamanya menginginkanmu tanpa ada lelahnya.