10.4.16

Come back into the good life, lose these hazy love lies.

Truth, cries, and lies. If they're never spoken, how could I know?








Adalah sebuah pelarian. Distraksi. Semua ini, jika kau sadari.
Sadarkah kamu bahwa yang sedang kita lakukan hanyalah dan semata-mata membunuh waktu saja? Bahkan tidak hanya menyiksa waktu. Kita membuatnya menderita, kemudian kita membunuhnya. Kemudian, kita buang mayatnya. Tanpa mau menguburnya. Maksudmu apa? Biar orang-orang melihatnya?
Mungkin saja, suatu hari nanti ketika kita sudah tak ada, membunuh waktu akan jadi kejahatan moral yang paling sadis diantara yang lainnya.
Sedangkan kita, adalah yang pertama memulainya.



Lalu, jika memang begitu, mengapa kau membunuhnya?
Karena keadaan, Kawanku, adalah satu-satunya penjelasan. Jika kamu bertanya padaku, jawabanku akan benar-benar klise. Dan membosankan. Karena pada akhirnya, aku juga tahu bahwa satu hal tentang diriku tak pernah semisterius itu. Berapapun aku coba menutup-nutupinya. Berapapun kami mencoba untuk menutup-nutupinya dari dunia yang selalu ingin tahu ini.
Maka, kau bertanyalah pada keadaan-yang-maha-kuasa yang mengetahui segala-galanya. Ia akan menceritakan padamu semuanya, hingga kamu tertidur lelap dalam pelukannya. Tertidur, dalam tangis, jika perlu. Jangan terkejut jika nantinya, mungkin, kau akan menemukan cerita-cerita yang tak pernah kaudengar dari mulutku. Namun, jika memang ia mengatakannya, berarti hal itu benar-benar ada dan kau harus memercayainya dengan segenap jiwa.
Keadaan, kawanku, adalah yang merubah segalanya. Perasaanku, tak terkecuali. 

Wah. Memangnya, apa yang berbeda dari perasaanmu yang dulu dan yang sekarang?
Sejujurnya, perasaanku tidak pernah benar-benar berbeda. Hanya saja, saat ini, konteksnya sudah berbeda.
Dulu, aku merasakan sesuatu dan percaya bahwa harapan itu ada meski hanya secercah cahaya di langit yang gelap. Meski hanya sinar lentera ketika gulita. Dan bagian yang terbaik dari hari-hariku yang lalu, adalah pengharapan itu.
Kini, aku masih juga merasakan sesuatu itu dan aku tahu bahwa harapan itu ada meski hanya secercah cahaya di langit yang gelap. Oh, dan kurasa kamu juga perlu membaca ulang beberapa kalimatku barusan. Kamu akan menyadari bahwa ada perbedaan antara pengharapan dan pengetahuan, dan betapa dua hal itu merupakan faktor determinan.
Mengharapkan adalah, suatu kegiatan delusional dimana kamu menciptakan fantasi-fantasimu sendiri terhadap sesuatu. Hanya meyakini bahwa sesuatu itu ada, entah dimana dan bagaimana cara mendapatkannya. Berharap adalah ketika semua yang kamu lakukan hanyalah meraba-raba tanpa pernah bisa menyentuhnya. 
Mengetahui adalah pertanda bahwa kamu telah selangkah lebih cerdas dari, semata-mata, mengharapkan. Kamu telah mendapatkan informasi, bukti empirik, remah roti, jejak kaki, atau apapun tentang pengharapanmu itu. Secara teknis, kamu memang sudah lebih dekat dengan tujuan inisialmu. Namun, dalam tahap mengetahui, tidak ada yang menjamin bahwa pengetahuan yang kamu dapatkan adalah pengetahuan yang kamu inginkan. Jadi, pada akhirnya, pengetahuan itu sendiri akan membuatmu menahan langkah, berjalan mundur beberapa petak, atau bahkan kembali ke tempatmu memulai segalanya. (Untuk saat ini, aku beruntung hanya perlu menahan langkah.) Setidaknya, kini kamu sudah bisa menyentuhnya. Kebenaran yang selama ini kamu cari-cari.




Maka, sadarkah kamu bahwa yang sedang kita lakukan hanyalah dan semata-mata membunuh waktu saja? 


Pada akhirnya, mungkin saja semua itu akan kembali seperti sediakala. Meskipun ada pula kemungkinan "mungkin tidak seperti itu", tetap saja. Kita berdua, berharap, bukan? Namun, bodohnya (as I've always been), aku akan selalu jadi pahlawan kesiangan. Aku akan selalu menyesali semua keputusan yang kubuat secara tergesa-gesa. Aku akan selalu menemukan kebenaran sesaat setelah aku kalah. Dan kali ini, Kawan, adalah kekalahanku yang paling sempurna.



Sebab kali ini,
aku lupa memintamu
untuk tetap
tinggal.

29.2.16

Kita akan baik-baik saja selama kita memiliki 'kita'

Awal cerita yang selalu bahagia
Adalah skenario yang ditawarkan cinta
Namun hanya Tuhan yang tahu kemana
Perjalanan ini kan bermuara nantinya…

Kita sedang bahagia
Jangan buang waktu menerka-nerka akhirnya
Tenang aku disini
Selama kau disisi
Aku bejanji
tak ke mana mana

Mungkin saja esok mungkin saja lusa
Mungkin saja dunia sekejap jadi berbeda
Perasaan dan segenap cinta yang kau
Dan yang aku punya
Kan tetap sama...

Masa depan yang aku inginkan
Adalah membahagiakanmu
Mulai hari ini…

Bagai bulan dan bintang kita takkan terpisahkan
Kita trus bersama warna kita selalu terang itu jadi pegangan
Janganlah pikirkan masa depan yang jauh
Tujuan masih jauh nikmatilah saat ini
Toh bah kita bersatu kan kupegang tanganmu serta pelukanku
Cerita nanti biar nanti syukuri ini dulu

Kita sedang bahagia
Jangan buang waktu menerka-nerka akhirnya
Tenang aku disini
Selama kau disisi
Aku bejanji
Mulai hari ini hingga tua nanti

Tak kemana mana..
Tak kemana mana..



Sore ini Depok hujan, dan kuharap di tempatmu juga begitu. Aku senang sekali karena tadi aku iseng membuka YouTube dan menemukan lagu ini. Setidaknya, lagu ini membuatku lebih tenang karena beberapa waktu terakhir ini--kamu tahu--aku memutuskan untuk bersembunyi sehingga wajahku tak dilihat dunia lagi. Tapi pada akhirnya, aku merindukanmu juga. Sial.

Kau tahu, aku selalu suka lagu-lagu seperti ini. Dan sejujurnya, aku biasanya selalu memberitahumu meski pada akhirnya tidak kamu dengarkan juga :(. Kau bahkan menganggapku cengeng dan sensitif karena lagu-lagu yang kudengarkan seringkali melankolis. Namun, hei, kamu tidak tahu kan betapa susahnya jadi cewek yang menyukai orang seperti kamu selama itu? Hehehe.

Seperti kata lagu, kita sedang bahagia. Atau begitulah kurang-lebih yang kurasa. Meski kadang aku juga meragukannya, meragukan apa nanti jadinya jika tanpa atau bersama kamu, aku selalu berusaha untuk tenang dan menikmati perjalanan yang ada. Karena jauh di dalam hatiku, di sudut tergelap di sana, aku menaruh setitik keyakinan,
bahwa kamu juga merasakan hal yang sama,
meski enggan mengakuinya.

Maka jika kamu tidak bahagia,
Biarkanlah bahagia ini
aku nikmati sendiri.

Terima kasih sudah menemaniku melalui hitam dan putih masa remajaku. Semoga aku akan sempat menyanyikanmu lagu ini, suatu hari nanti.

Selama kau disisi, aku bejanji tak ke mana mana..

25.2.16

Dan jawaban dari pernyataan yang tidak akan (pernah) kau ucapkan adalah



"Aku selalu, meski kamu tidak."

Racauan malam-malam

Hai. Sudah lama sekali nggak nulis, rasanya canggung mau memulai. Belakangan ini memang jarang nulis karena
1) Sebulan lebih di Ponorogo, di rumah yang tidak ada wifi dan untuk tether dari hp rasanya eman sekali sama kuota
2) Di Ponorogo nggak banyak peristiwa. Kalaupun ada nggak worth posting. (Lah terus yang ini worth gitu -_-)
3) Sesampainya di Depok dan dapat wifi, malah sulit meluangkan waktu buat menulis. Alhasil, hanya tulisan macam inilah yang bisa kalian baca.

Btw, aku sekarang sudah masuk semester dua. Sekarang sudah jarang ikut latreg debate, sudah jarang jalan-jalan ke perpusat, dah jarang beli tempe mendoan ke MUI, apalagi sekadar membaca di selasar di tepi danau. Dulu, rasanya semua itu gampang sekali kulakukan. Pulang kuliah selalu masih siang dan malas pulang ke kosan, alhasil pulang kuliah hampir selalu take a walk dulu ke tempat-tempat favorit seperti yang aku tunjukkan di post sebelumnya. Sekarang, jadwalku tight sekali. Hanya satu hari dalam seminggu aku bisa pulang siang, sisanya selalu pulang kesorean. Itu pun hanya untuk kuliah, belum acara-acara lainnya. Mungkin karena beberapa hari aku masuk siang, jadi jam pulangnya harus mundur. Entahlah.

Tapi, meski jadwalku kurang bersahabat, matkul-matkulku yang sekarang jauh lebih keren daripada semester lalu. And thanks God I passed Sejarah Aliran Psikologi last term! Aku selalu takut dan males kalo harus ngulang matkul yang satu itu. Sekarang ini, aku ketemu dengan Neuroscience, Psychology of Learning, Social Psychology, sama Research Methods (meski masih deskriptif-statistik hehehe), sama satu lagi matkul wajib univ MPKT B (matkul kolaborasi multidisiplin ilmu like geografi biologi astronomi matematika filsafat dll all in one). Dosen-dosenku juga alhamdulillah asik-asik semua. Aku yang jebolan IPA sih ambiz pengen psikologi klinis jadi yha bayangkan betapa senangnya bertemu Neuroscience di semester ini meski sedikit rumit seperti hubungan kita ya nggak. Dan juga, berdua bersama matkul MPKT B mengajarkanku apa artinya kenyamanan kesempurnaan e-learning dan indahnya ngumpulin tugas tanpa harus ke kampus.

Oh iya, semester ini aku ada matkul wajib seni dan aku ambil Karawitan Jawa yoi because Imma Javanese lad. Sebenarnya agak lucu juga sih karena aku orang Jawa yang belajar Karawitan Jawa di tanah Sunda tapi ya udahlah. Teman-teman sekelasku di kelas seni kebanyakan dari luar Jawa, mostly Jakarta dan daerah-daerah Sumatera dan Lampung. Banyak dari mereka yang pengen belajar karawitan which I found myself so pitiful karena aku bahkan dulu nggak kepikiran buat nyeriusin belajar karawitan. Now that I really do belajar karawitan, ternyata nggak sesimpel yang aku bayangkan. Aku juga baru tau ternyata notes gamelan itu beda dari notes piano yang diatonis. DAN MAIN GENDER GA SEGAMPANG MAIN KEYBOARD LID WKWK SKREW U. Tapi overall, aku suka banget mainin gamelan! Sekarang udah apal dong jenis-jenis gamelan apa aja hehehe. Musik karawitan itu menghasilkan bunyi yang khas dan harmonis, dan dengung gong agengnya itu lho....it resonates sampe ke tulang-tulang. Membuat kelas ini worth taking banget.

And I think it sums up that semester ini padat dan menyenangkan. Aku suka.



Terlepas dari kehidupan kampus, sebenarnya banyak hal terjadi belakangan ini. Cuma, aku selalu nggak tau gimana caranya menuangkan dalam kata-kata. Aku bingung mulai dari mana bercerita, dan belum yakin mana hikmah yang bisa aku timba.

Mungkin kamu bisa bantu memilihkan?
Haha, canda. Diamlah dan membacalah saja. Gaenak kan dibercandain?

Beberapa waktu lalu aku habis nonton film Paper Towns.
Rada nyesek juga kenapa endingnya para lakon nggak barengan. Instead, pas Quentin menyatakan cinta Margo malah bilang "I don't even know who I am". Sedih sih. Karena sebagai penonton, we demand something more. Something bigger than just a "No" from an asking to be together. Bayangkan, perjalanan Quentin yang sudah sebegitu jauhnya, bahkan dia sudah mengorbankan sahabat-sahabatnya, cuma dibalas dengan penolakan Margo. Kan sakidh all over the air.



NAMUN.
Film itu berhasil membuatku penasaran. Akhirnya aku menonton lagi untuk kedua, dan ketiga kalinya. Aku mencoba untuk menemukan true meaning dari ending film tersebut. Dan kurasa, aku berhasil.

Keberhasilanku itu bukan karena aku nonton film sebanyak tiga kali sih, namun karena hal itu, hal yang terjadi pada Margo, terjadi padaku juga. And this time it was for real. It was when someone you trust claimed to have known so much about you, and you became angry. Kenapa harus marah? Ya iyalah, karena in the end kamu sadar bahwa seseorang yang kamu percayai itu sudah terlampau sok tau soal hidup kamu. Dia ngejudge kamu dan bilang bahwa kamu bakal gini dan gitu kalau kamu gini dan gitu. And in fact, dia nggak tahu apa-apa, every single damn thing. I was like, hello, who are you to say such things? Are you a god?

Dia bahkan nggak ada di sana saat kamu berada di masa-masa sulit. Di saat kamu lagi down-downnya jadi orang dan dia nggak bisa diajak berbagi, itukah yang dimaksud sangat mengenalmu? Karena nyatanya, lo nggak pernah bener-bener kenal siapa gue, men. Lo cuma tau apa yang lo tau dari gue. Itu yang pertama.

Kedua, tentang orang-orang di sekeliling kita yang demand more, kadang kita emang harus ambil risiko ya. Nggak selamanya yang banyak orang pikir baik, bakal baik buat diri kita juga. Kayak kalo mau beli barang, meskipun testimoninya banyak dan bagus-bagus, in the end kita sendiri yang bakal memutuskan mau beli atau enggaknya. Emang sih, pada awalnya mereka mungkin bakalan slightly benci kamu karena kamu nggak memenuhi ekspektasi mereka. Tapi aku yakin at some points they're gonna look back and understand why we did what we did. Dan kadang, mereka bakalan nyesel karena pernah memaksakan keyakinan mereka kepada kita. We all will eventually see the truth. Emang waktu yang dibutuhkan buat kejujuran rada lama sih, nunggunya juga rada capek, tapi efek leganya itu yang everlasting.

Jadi dari film tersebut dapat kita simpulkan bahwa
1) Nyatakanlah cinta, tapi jangan memaksa untuk dimiliki
2) Apa yang banyak orang pikir cocok buat kita nggak selalu cocok buat kita

Well..
Kira-kira demikian dulu. Jangan cap aku sebagai tukang baper ya, because I really am not. Sisi baper itu sekali-kali juga harus muncul sebagai pertanda bahwa kita, manusia, memiliki hati untuk merasa. Meski aku gak yakin kamu punya hati dan perasaan buat aku hmm  Okay bye!

20.2.16

Setelah sekian lama, pertanyaanku hanya akan ada satu saja.
Mengapa?

13.12.15

How to break up using a psychological joke

Double aspectism (juga dikenal sebagai Psychophysical Parallelism) merupakan suatu aliran yang meyakini eksistensi jiwa dan raga namun menolak adanya saling keterkaitan atau connectionism antara keduanya. Aliran ini mengklaim bahwa jiwa dan raga bergerak secara paralel dan tidak saling mempengaruhi satu sama lain. Segala fenomena badaniah yang terjadi merupakan kejadian yang independen sehingga tidak dapat dihubungkan dengan fenomena rohaniah, dan begitu pula sebaliknya.

Sama gak sih kayak kita? Aku di sini dan kau di sana, hanya berjumpa via doa. Meski kau kini jauh di sana dan kita memandang langit yang sama ya keles mau lu di Jakarta kek, Rusia kek, Kutub Utara sekalipun, selama lu masih di bumi langitnya pasti sama kali  :( . Kamu sibuk dengan duniamu, aku juga asyik dengan duniaku. Kita ini udah beda, dan kita udah jalan paralel persis kayak double aspectism. Kamu harus sadar kalo kita nggak bakalan ketemu di jalan yang sama. Jadi, ya udah ya? Kita jalan sendiri-sendiri aja. Daripada sakit maksainnya.


HEHEHE marry me no.

4.12.15

How would you describe love? And how would you react to it?

When it comes to love, which of course is such an everlasting topic to discuss, if I can be truly honest to myself the more I grow, the more I experience life, after falling in love, falling out of love, asking about love itself, searching for love, not believing in love, then believing in love once again. After all that, the more sure I am that what i’m feeling right now is not love.

I’m desiring yes, I’m attached yes, I’m afraid yes but is that love? Is love attachment? is love fear? or is love something more that transcends this. Do you love someone because they love you back? Can you love without being given love? Is there jealousy in love? Isn’t jealousy a sign of ownership? Is love then all just about owning? Like owning an object?

Is that real love? Is love just then about your own personal security?
And if love is just a mere emotion, won’t it disappear like any other emotions? As all emotions are impermanent and transitory?

I really don’t know anonymous but if you ask me why am I still in a relationship now, it’s because both of us acknowledge this problem of love and we’re both looking for the answer together. Life is harsh. Happiness is just right around the corner, but so is sadness. And life with all its tribulations and elations is much easier to handle when you have someone going in the same direction.

So for now i’m not asking anymore than that. Let’s see how far I go with this chicken soup for the soul hogwash.

Ben Laksana, 2013 

29.11.15

Aleika Mencinta




Lagi, tentang cinta yang selalu rumit.

Sekali lagi, Tuhan mengirimkan malaikat dengan kantung-kantung pikiran tersampir di kedua pundaknya. Malaikat itu akhirnya kuketahui bernama Aleika. Ia menyuruhku memanggilnya Leika. Sebelumnya, kukira ia hanyalah manusia biasa sebab dari perawakan, pakaian, dan caranya memperlakukan sesama, ia benar-benar sangat seperti manusia. Sudah lama aku berteman dengannya, sudah hampir empat tahun ini. Waktu mendewasakan raga dan juga persahabatan yang kami miliki, semakin baik setiap harinya. Dan jujur saja, sejauh ini, persahabatanku dengan Leika merupakan persahabatan terbaik dan terideal yang pernah kumiliki sepanjang usiaku. Kami bertukar banyak cerita melalui setiap isapan kopi dan susu jahe hangat. Namun bukan itu yang terpenting. Dari cerita itu, kami berpendapat. Dan dengan berpendapat, kami saling meminjamkan dunia yang kami miliki. Begitu hangat dan ringan secara bersamaan. Saat-saat bersama Leika merupakan waktu yang sangat kuhargai. Bersamanya, aku lupa tentang ocehan lelaki basa-basi untuk dituliskan di buku nikahku kelak. Bersamanya, yang ada hanya sekarang, aku dan dia. Bersamanya, tidak ada yang namanya pura-pura, dan hidup ini indah begini adanya. Bersamanya, adalah sempurna. Selama kurang lebih empat tahun ini, begitulah persahabatan kami berlangsung.

Malam itu, tidak seperti biasanya, Leika memintaku untuk meluangkan waktu sebentar. Ia bilang bahwa ia ingin bercerita tentang segala hal yang memberatkan hatinya. Tak pernah aku melihat Leika segusar itu selama ini. Ia hampir tak pernah memohon untuk meminta bantuan. Seluruh hidupnya ia habiskan untuk memberi. Ia selalu nampak sebagai pria yang keasyikan bermain di dunia fantasinya hingga sering lupa diri, lupa rumah. Namun kali ini sepertinya ia lelah bermain dan ingin pulang, barangkali minta dipijit kaki-kakinya yang lelah.

“Aku ingin kamu mendengarkan ceritaku. Tolong ya luangkan waktumu.” Katanya.

Aku, yang sejujurnya hari itu banyak rencana, segera menanggalkan beberapa demi Leikaku satu-satunya ini. Demi melihat sepatah-dua patah kata darinya, demi mendengar dia mengeluh untuk kedua kalinya, setelah keluhan pertamanya saat masih jadi mahasiswa baru dulu.

“Aku nggak jadi pergi, buruan cerita.”
“Ah oke aku selebrasi dulu.”

Yah, itulah Leikaku. Entah apa yang dimaksudnya dengan selebrasi, yang jelas ia meninggalkanku dan membuatku menunggu selama kurang lebih lima menit sebelum pesannya selanjutnya menggetarkan ponselku.

“Hei, aku bingung mulai dari mana.” Entahlah. Hari ini Leika aneh sekali. Ia tidak pernah bingung sebelumnya.
“Dari awal lah.” Sahutku kemudian yang…tentu saja. Ayolah.

Dan selanjutnya yang aku tahu, ia bercerita tentang Alena. Gadis yang sejak lama menarik perhatiannya. Tanpa tedeng aling-aling, ia pun bercerita tentang kegundahannya dan akulah yang harus merenungi tiap kata yang diucapkannya..

“Setelah melalui sebuah rangkaian kontemplasi yang panjang, dengan kesadaran penuh akan rintangan dan halangan yang ada, dengan menyebutkan kemungkinan pesaing yang cukup berat berupa junior tampan dengan mobil mewah, Saya Leika, memutuskan untuk kembali ke jalan perjuangan atas gadis yang selama ini saya tahu saya cinta, yaitu Alena.”

“Saya tidak akan muluk-muluk dalam perjuangan ini mengingat kemungkinan berhasil yang amat kecil. Oleh sebab itu, saya hanya akan melakukan segala upaya terbaik. Contohnya, saya mau berada di sekitar dia ketika dia butuh sesuatu, berusaha menjadi superman dia, meskipun ya…kecil kemungkinan dia melihat saya. Namun saya tidak peduli.”

“Mencintai Alena telah mengubah hidup saya menjadi lebih baik, demikian kepribadian saya sebagai seorang pria, telah menjadi lebih baik pula. Dengan mencintai Alena, saya mulai mengurangi segala kebiasaan buruk saya.”

“Memang jika dibandingkan dengan junior tersebut, saya terlihat tidak ada apa-apanya. Namun saya berpikir demikian, oke, ada junior yang tinggi, besar, good looking, bawa mobil dan keren. Namun kita tidak tahu apakah dia memberi segala yang dia punya untuk Ale. Semisal dia punya lima apel, apakah dia akan ngasih kelima-limanya untuk Ale? Sebab yang saya tahu, saya cuma punya dua, namun semuanya saya kasih untuk Ale. Demikian analoginya.”

“Mawar yang dia kasih ke saya setelah kami berdansa malam itu, saya simpan baik-baik di kamar saya. Meski layu, akan saya rawat mawar itu. Akan saya kasih ke dia lagi suatu hari ketika saya jujur. Bunganya, dia tanyakan ada dimana. Dan saya jawab bahwa bunganya hilang, padahal aslinya saya bawa pulang dan saya rawat. Saya ganti airnya setiap hari. Dengan mawar yang saya curi itu saya ingin menunjukkan pada Ale bahwa meski kita nggak bisa melawan ketentuan alam, saya tetap bisa merawatnya. Tidak saya buang begitu saja, karena saya tahu ada sesuatu yang spesial di dalam ketidakmungkinan yang patut diperjuangkan itu. Persis seperti keadaan Ale dan saya sekarang ini.”

“Dan dengan demikian cinta saya terhadap Ale tulus, tanpa pernah saya harapkan balasannya. Dengan mencintai Ale saya percaya bahwa cinta itu menguatkan. Tidak pernah saya marah karena hal receh-receh, saya malas sakit hati lagi. Saya hanya ingin lakukan semua yang saya bisa untuk bikin Ale bahagia. Saya melakuakan semuanya untuk Ale tanpa karena.”

“Memang terlihat picisan, namun persetan! Saya tidak pernah jatuh sedalam ini. Sekian.”


Malam itu, aku melihat Leika sebagai seorang yang berbeda. Aku memuji diriku sendiri karena telah menjadi seorang yang setia, melihat Leika tumbuh menjadi seorang pria sejati yang sanggup mencintai seseorang tanpa karena. Tiga tahun lalu, Leika masih suka merengek soal kekasihnya yang lalu, yang kini sudah mulai mencinta lagi. Sedang ia merana mencari seseorang untuk dicinta lagi. Enam bulan lalu, melalui sesapan kopi dan susu jahe hangat di malam yang dingin bekas hujan, akhirnya Leika mengajukan sebuah nama. Nama itu adalah Alena. Nama yang sanggup menenggelamkan seluruh hatinya hingga jatuh sedalam-dalamnya.

Malam itu, Leika menerapkan konsep mencintai yang selalu kami agung-agungkan di hari-hari lalu. Konsep yang menjadi dasar tolok ukur bagaimana manusia seharusnya mencintai. Konsep yang membuat kami berani mati daripada menjalani hidup dengan cinta ala-ala.

Selama ini, Leika kira aku yang akan lebih dulu menemui pria itu. Namun kamu salah, Leika. Nyatanya, kamu duluan yang menemukan gadis itu. You little lucky bastard. You who loves with all your flaws, proudly. Selamat mencintai, Leika. Ale adalah wanita paling beruntung karena dicintai oleh orang seperti kamu. Kuharap, Tuhan menyisakan satu Leika lagi di belahan bumi manapun khusus untukku.

Sebab aku bisa, dan aku ingin, mencintai seperti Leika.




26.11.15

Siapkah kau 'tuk jatuh cinta lagi?

Aku teringat lagi sama kata-katanya seorang senior, dulu dulu banget waktu aku tanya sudahkah ia jatuh cinta lagi. Jawabannya sederhana, dan intinya begini:

"Belum. Aku emang naksir cewek berkali-kali, naksir yang tipis-tipis aja. Tapi rasanya belum ada yang bisa bikin aku tenggelam, truly madly deeply fall for her. Susah banget ya nyari cewek yang kaya gitu. Sering tuh udah banyak yang tahu, terus nyuruh aku macarin doi, tapi entah kenapa rasanya selalu ada sesuatu yang menghalangi. Rasanya selalu ada sesuatu yang kurang, dan biasanya karena aku ngerasa my fall wasn't deep enough and she deserves more than that."

Hmm, and now it gets me thinking.
Apakah harus sedalam itu untuk bisa dibilang cinta?
Jika ya, sedalam apa kita harus cinta?
Kapan kita tahu bahwa kita sudah sampai cukup dalam untuk bisa cinta?



Kan, seringkali kita terlalu nyaman sama seseorang. Kamu tahu bahwa kamu suka sama dia, tapi kalau mau dibilang sayang...rasanya nggak juga. Kamu cuma senang aja sama hidup dia yang warna-warni, dan kamu ingin untuk terlibat jadi salah satu warna itu. Sering waktu main, kalian tiba-tiba larut dalam deep insightful conversation upon something dan berujung berantem sampe besok paginya. Sering juga kamu ngabarin dia kamu lagi apa, lagi sibuk apa, nemenin dia pergi kemana-mana berdua, solve almost everything together, video call each other for hours and just randomly send picture of each other's doing whenever you guys are away...dan ketika ada yang tanya "Emang buat apa?" kamu juga merasa susah untuk menjawabnya. Dia jelas diluar tanggung jawab kamu, dan bukan orang seharusnya untuk dikasih kabar. But anyway, you just feel right to do so. Dan sekali lagi, untuk dibilang sayang apalagi cinta, rasanya nggak juga.

Maka sampai batas apa kedalaman itu bisa diukur? Karena di sini kamu jadi sadar, bahwa kamu dan dia sedangkal itu.

Tapi ketika kamu pakai penjelasan 'feels right to do so', will depth matter anymore? And even if it's far from deep, won't you refuse it when some other people claim it's never been meaningful to you? Well, you decide. Maybe love should indeed be deep and shallow at once.




Aku belum bisa menyimpulkan.



25.11.15

Berhati-hati dengan sudut pandang



Alkisah, seorang wanita hidup sengsara. Suaminya tak lagi mencintainya. Mereka hidup secara terpisah. Di sisi wanita itu hanya ada anaknya, muara segala harap yang ia tempa sehari-harinya. Tanpa keluh, tanpa alpa. Berharap suatu hari sang anak bakal tumbuh lebih manusiawi daripada bapaknya.

Suatu hari, sang suami ingin bertemu anaknya. Alih-alih mengetuk pintu dengan sopan, lelaki ini menggedor-gedor pintu rumah sang wanita. Wanita ini jadi bimbang: di satu sisi, ia ingin membiarkan anaknya merasakan kasih sayang seorang bapak; namun di sisi lain, bapak ini bukanlah bapak yang diharapkannya untuk mengasuh anaknya. Ia kebingungan di balik pintu, mondar-mandir berusaha menyembunyikan si anak ini dari bapaknya. Kepanikan yang terjadi di rumah kontrakan yang tidak besar itu menarik perhatian warga sekitar. Berbondong-bondong mereka datang, hanya menyaksikan umpatan kemarahan sang suami terhadap istrinya juga anaknya. (Selanjutnya, ketika para tetangga tersebut diberikan pertanyaan terkait keengganan mereka untuk melerai pasangan tersebut, mereka menjawab "Biarin, kan emang bapaknya.")

Di tengah saat wanita itu memberikan penjelasan kepada anaknya, lelaki ini telah berhasil mendobrak pintu rumah si wanita. Pendobrakan selesai, kemudian pukulan bertubi-tubi hinggap di wajah cantik si wanita. Peristiwa tersebut disaksikan oleh sang anak. Dan setelah puas menyerang sang wanita, lelaki itu pergi membawa sang anak, meninggalkan sang wanita yang tak berdaya.

Selang beberapa minggu kemudian, wanita tersebut dikabarkan meninggal. Di tangan lelaki yang dulunya ia sebut suami, yang dulunya seharusnya ia cintai. Semenjak itu, kontrakan tersebut sepi. Si anak dan lelaki biadab itu tak pernah lagi datang mengunjungi.


***


Seseorang lain kemudian bercerita bahwa "Ada seorang wanita yang tewas dibunuh suaminya karena tidak menurut." -- yang mana hal itu mengajariku banyak hal soal perspektif. Soal betapa mudahnya manusia mengobrak-abrik cerita, mengubur detil-detil yang ada, dan membuatnya menarik untuk diceritakan kepada orang lain. Betapa mudahnya manusia menutup-nutupi fakta sehingga menjadikannya kebohongan yang dengan mudahnya disebarluaskan. Kebohongan yang selanjutnya diamini oleh orang lain--yang tentu akan membuat kebohongan lain yang lebih spektakuler dari kebohongan yang telah ada--yang kemudian diteruskan kepada orang-orang lain.

Lies. Inherited lies.

Lihatlah. Betapa mudahnya manusia mengubah korban menjadi tersangka. Hanya karena sudut pandang, fakta jadi opini dan opini jadi fakta.
Ketika pernyataan seorang saksi termasuk dalam daftar valid pencarian bukti, akankah saksi itu menceritakan yang sesungguhnya? Ya, menurut saksi itu. Sebab ia merasa melihat semuanya. Namun tidak, menurut sang wanita malang. Wanita itu tidak menurut karena suatu alasan, dan dengan tidak menurut seharusnya tidak menjadikan ia pantas untuk dibunuh.
Akankah saksi itu sama saja seperti kebanyakan manusia: gagal melihat dari sudut yang berbeda? Tentu saja. Karena mata cuma dua, dan biasanya, keduanya sudah puas melihat satu versi cerita saja.

Setidaknya, jika memang tidak benar-benar mengerti, jangan buat versimu sendiri.
Jangan sembarangan mempersingkat cerita, biasanya yang dipersingkat itu tidak apa adanya.



Terinspirasi dari kuliah Ibu Julia Suleeman, 23 November 2015

24.11.15

Semudah itu, Rindu




Aku hobi memendam perasaan. Aku sendiri sempat kesulitan ketika dia bertanya sejatinya aku ini punya perasaan atau tidak: apa aku tidak tertekan, atau berusaha menutup-nutupi bahwa sebenarnya aku tertekan? Nampaknya, aku sudah terlalu terbiasa menyublimasi semua repressed feelings hingga tidak tahu lagi rimba dari perasaan itu sendiri itu apa, atau bagaimana seharusnya perasaan tersebut dieskpresikan. Aku seringkali terlalu asyik bermain peran 'gadis bahagia', sehingga selalu terlihat tidak apa-apa.

Namun malam ini perasaan itu datang lagi, lebih kuat dari yang sebelumnya. Rasa yang lama sudah tidak kuucapkan--bahkan cenderung kuhindari sebab memikirkannya sering membuatku lara sendiri. Namun ia datang lagi, dan kali ini tidak bisa kupungkiri.

Rasa itu,
Rindu namanya.

Rindu adalah ketika kamu membuka puluhan folder berisikan foto-foto nggak jelas di laptopmu. Foto-foto sadar kamera berisikan wajah-wajah bahagia, kamu dan seorang yang (sesungguhnya) berusaha kamu lupakan karena terlalu jauh dari jangkauan, dan jalan kalian saling berbeda haluan. Di foto itu, tersirat tawa tulus menandakan kebahagiaan yang amat sangat, bukan pura-pura apalagi ala-ala. Waktu itu, kalian belum tau apa itu sakit hati sehingga hari-hari kalian hanya berisi suka hati. Begitu banyak tawa dan cerita untuk dibagi-bagi, rasanya tidak ada sesuatu pun untuk ditangisi. Waktu itu, yang kamu tahu hanya bahagia. Disitu, kamu tersenyum.

Rindu adalah ketika kamu membuka puluhan folder lain berisikan foto-foto nggak jelas di laptopmu. Foto-foto candid kamu dan seorang lain, candid yang sesungguhnya--dan sekali lagi bukan ala-ala. Wajah menggerutu, wajah sedih, marah, tersipu, yang sengaja kamu intip dari balik kamera. Di dalam foto-foto tersebut, ada ekspresi yang bercerita, tentang perasaan sejujur-jujurnya. Melihatnya membuatmu tercenung lebih lama dari foto-foto sebelumnya, karena kamu mulai mengingat kenapa ekspresi tersebut muncul. Dan kereta ingatan pun berangsur-angsur datang memberikanmu jawabannya, kamu kemudian menertawakan kenaifan kalian waktu itu. Namun setelah kamu amat-amati lagi, semuanya sudah usang sekali, dua ribu dua belas, dua ribu tiga belas, dan setelah itu hampir tak ada lagi. Setelah itu, yang kamu temui hanya fotomu sendiri. Sendiri sekali, tanpa orang lain itu. Dan disitu, kamu mulai meneteskan air mata.

Flashbulb memories. 
The memory of emotionally significant events that people often recall with more accuracy and vivid imagery than everyday events (King, 2014)

"Ada yang membawa hanyut segala sesuatu. Bukan air, tapi waktu."


Dalam doaku sore tadi, aku bercerita pada Tuhan tentang semuanya. Kali ini, aku menangis lebih keras dari yang seharusnya karena the pain is overwhelming. It's intangible. Yet it's inevitable. It's everywhere. Aku bilang sama Tuhan.

"Tuhan, dulu aku punya semuanya. Dulu rasanya hidupku sempurna sekali dengan mereka di sekitarku. Aku dulu nggak kebal perasaan kaya gini. Kalau lagi bawa perasaan ya nangis, kalau lagi seneng banget ya ketawa karena aku tahu ada mereka yang peduli sama aku. Sekarang aku udah gede, Tuhan, makasih banyak untuk umurnya. Tapi kenapa justru mereka Engkau jauhkan dariku, Tuhan? Iya aku percaya bahwa rencana-Mu selalu lebih besar dari milikku, namun rasanya berat gitu lho, Tuhan, buat meng-admit bahwa aku bisa hidup dengan itu. Maaf ya, Tuhan, aku ngeluh melulu, tapi emang berat rasanya dan aku nggak mau bohong sama Tuhan soal ini. Dan Tuhan tahu sendiri bahwa dengan dijauhkannya mereka, aku jadi kayak monster gini. Kenapa justru aku jadi insensitive kaya gini, Tuhan? Masa katanya aku nggak punya perasaan lho, Tuhan, kan nyebelin.
Tuhan, mungkin nggak sih buat mereka berada di sini lagi sama aku? Kalau memang mungkin, dan semuanya kembali, apakah bakal sama seperti yang dulu-dulu?
Suer, Tuhan, lagi kangen banget nggak ketulungan nih. Maaf ya, Tuhan, Ulid mintanya macem-macem...
Tapi kalau emang nggak mungkin banget, aku mau minta mereka dikasih kesehatan aja, Tuhan. Aku berdoa setulus-tulusnya juga semoga mereka selalu semangat kuliah, dan tujuan kuliahnya tercapai. Oh iya, semoga mereka selalu dikelilingi orang-orang yang sayang sama mereka, seenggaknya sesayang aku sama mereka. Kalau kadar sayang orang-orangnya masih dibawahku, udah jauhin aja, Tuhan. Aku nggak mau banget mereka dapet cinta kualitas KW. Titip mereka ya, Tuhan. Makasih banyak, I love you."



Sejujurnya, konseptualisasi waktu telah merugikan banyak orang. Banyak sekali yang menyatakan kutukan terhadapnya karena sifatnya yang selalu bergerak maju tak peduli apa yang ditinggalkannya. Aku, tak terkecuali, telah mengutukinya berkali-kali.
Dan segera, aku menginginkan semua yang dicuri waktu. Aku iri pada waktu yang bisa membawa hanyut segala sesuatu yang berhamburan ke segala arah dan di saat bersamaan bisa mengikutinya satu-satu, tanpa terlewatkan. Aku iri karena waktu selalu tahu, selalu mengiringi kamu.





Aku iri karena waktu,
meninggalkan aku
dalam rindu
semudah
itu.



Sedang kita,
tak kunjung bertemu.

16.11.15

When you try your best but you don't succeed

"Kamu itu, kita semua ini sudah terlanjur didoktrin bahwa jika kamu nangis maka kamu lemah. Padahal memang sakit kok, masa nggak boleh nangis. Relakanlah endorfin-mu jika memang sudah waktunya."

Katanya Mas Eko, yang selalu kuingat-ingat di kepala.





Karena aku mahasiswa yang baik, maka kuturuti perkataannya.
Dan menangislah aku sekarang.

13.11.15

A fiction comes true: a blessing or a curse?


This time, we would talk about fiction. So, how many of you loves fictional stories? Tell me how interesting they are, tell me how it thrills you out imagining something impossible to happen in real life. And how many of you have tried making your own version of fiction? For those who raise your hands, well I did too, long ago. It was such fun, I know. But you'll see the fun is no longer when that fiction slowly slips through your wish and prayers and eventually comes true. The fun is no longer knowing that, now that the thing is real, it looks creepy and weird even to see it around. It is right there now, right under your nose like how a reality should be. 

Awalnya sih cuma iseng. I happened to have this period of spare time and tried to think of something to be written. Aku memikirkan sesuatu yang kelihatannya sangat mustahil mengingat kemungkinan untuk terjadi dalam ruang dan waktu yang kutentukan tersebut amat sangat sedikit. Waktu itu, tempatnya bahkan fiksional sekali. Setting tempatnya di sini, dan waktu itu tempat ini masih hanyalah angan-angan belaka. Kemudian, subjeknya, adalah kamu.

Kamu yang saat itu hanya kuketahui namanya tanpa tahu asal-usulnya. Kamu yang sering bertemu denganku, always dying to talk to me, but chose to be silent. Kamu yang aku sama sekali nggak kenali. Hanya nama, dan hanya keping-keping cerita tentangmu yang kudapat entah dari teman atau akun-akun media sosialmu yang sengaja aku stalk for the sake of curiosity. And then I found you were so mysteriously interesting and you know I like mysterious people. Jadi, berbekal pengetahuanku yang demikian miskin, I started to write about you. Typed it, saved it, re-read it occasionally, and that's all. I never expect anything, not a single thing about the story to become true someday.

But then, reality hit me hard on my face. There was a time when I had to literally move my little self on and get a prosperous life. There was a time when I had to move out from that city, and going back to my hometown--means I couldn't have any chance to see you twice a week just like I used to. Means I had to leave you, for my own good. It was quite sad, actually, but I didn't take it seriously. And so I packed my stuffs and making new possibilities for myself to achieve. I even forgot about that story, that fiction, and even you. And that was just okay, I had nothing to lose.

I continued living my life cheerfully. Being ambitious, full of dreams, being a role figure of every motivational books. Fed myself with books like literally 24/7, had a boring life for months (I have to admit), and it was still okay. But, you know what? Everytime I get bored, I always look up to my notes, find that fiction, quickly reading it, and somehow it makes me re-energized. It became my source of power whenever I get down. My crazy thoughts of you, somehow, they keep me sane. Then slowly, that fiction became addictive to me. I read and read and read it all over again and get strengths in some ridiculous ways I couldn't explain. And soon, away from consciousness, you slip into my wishes. Between my cries on my night prayers, under my pillow when I was about to dream, a vague layer beneath a reason of my aim. Maybe because I got engaged to it, maybe because I spent much more time than I did reading that fiction. Maybe, I've just proven the proverb "bisa karena terbiasa" on this case. I just don't have a proper explanation about how unconsciousness can take lead of our behaviors.


Months passed by, clarity happened. I was no longer a sad girl stuck in the circle of boredom. I was happy and free, but eventually, shocked to death. Knowing that the fiction were revealed, transformed into reality, and you too. It was not just it, not only the subjects, not only the places I've set, but also the circumstances and every conversation that we have. It somehow makes me feel like it's meant to be, like we were destined to be met. 

Am I a good writer or a bad writer, a good person or a bad person, for having this chance of seeing a wish being granted by Her Maker?

I got lost in words, I lost my compass on how to behave toward this granted wish because you are just so...unreal to me. You must have still been in my notes, being that person I imagined, not physically exist and engage with me in my daily basis. You got me on hard times coping with everything surrounds me. Indeed, this situation is unreal. But you, making it even harder to believe! You eventually being the reason I keep afraid that all of these are just dreams on a long-sweet-night sleep. You eventually are the one who makes me scared of being awaken someday in the future just to realize all these things never happened!

You, are a wish turning into curse really soon.
You, are better off being a fiction.

***
Now here I am, learning the hard way to be very careful when writing a fiction because this phenomenon scares me a little bit to start writing another fiction. It was fun, indeed, to write such things you like and to imagine a certain circumstance of impossibility. But you have to realize that, impossibility is somehow a negation of possibility--which means it's a part of it. You also have heard their tale of this Earth and its people, telling you everything can happen and the best to do is anticipate. My thing finally happened, and I have to work a little harder to cope and fit myself into this kind of a TOTAL weird situation where awkwardness is everywhere and I couldn't help it. 

I also have learned that not every wish is worth wishing. Take a very good care of it because you'll never know whose and which prayers are going to be granted. You may not speak them through words, but God knows every single thought you have in your mind, every single name you silently write on your heart, and every single look you lay on in a blink of an eye. He's watching you all along, so be careful with everything that you do. Get yourself prepared to various surprises lying ahead because, if you are a type of person like me who's basically not fond to surprises, things like these will shake your legs.

God is that great.




25.10.15

In the solitude

Just done reading posts made by people who happened to be.....so good at explaining what I'm feeling right now. Sometimes I feel like I'm too an illiterate trash to just spread the words out of anything inside of me. I'm too glad knowing that there are still people who think and feel the same way as I do, and can explain those thoughts and feelings waaaaay better than me. I'm so thankful to the universe that set my fate to eventually found their pages, and sent me a virtual arm to make me feel alright. At least for now that I cried myself on my bed, been clueless questioning the why of things happened lately.

I don't know. I just don't know. Maybe I still have no right to judge, to criticize, to simply conclude  life. I don't even know whether or not I deserve to feel upon things. Maybe I'm too an immature, selfish, shy little brat crawling up the slope--gets a luck of being shown a sneak peak of something they call life. I'm feeling like all of them people have their own definition of life, while I'm here spending time reading Hergenhahn's book trying to find out mine. And yet I haven't found any up until now. I'm feeling like there's so many truths to be believed in. And you know what? It's really sad that in the end you realize that people actually have made up those truths, rewriting and rephrasing the prior truths--without even noticing that they actually change those truths, they change the essence of just everything.

Here I am, left indecisive to even believe one of them.

I'm indecisive to pick up things that suit me up the best. I just sort of found out that things have been being harder, and, holy Lord, I just found out....maybe a minute ago. I've always thought I'm fine. I've always felt like this is the coolest shit I've ever made in my life. But, God, now that I'm here, now that I recall everything....someone, I think Life, slaps me in the face. He tells me I can not put up with anything. I'm a total mess now. I made a bad start and that becomes the domino effect of all my episodic memories. Well, it can be summed up like, what happens to me right now is the effect of what I've done far in the past. This is the effect of something I thought okay for doing. I thought it was just it, but sadly, it's not. It ruins my life just now and the result is...a version of Me I'll never want to be.

I think I'm done figuring things out up until this point. I know if only I move farther on figuring out, I'd might be ended up jumping from the 3rd floor of my dorm. For now I could only hope that things will get better. Bye-bye bad day, I'm gone sleeping....

7.10.15

Little things that matter

"Selama kamu di sini, carilah kebahagiaanmu melalui hal-hal kecil. Really, it helps you survive." 

demikian kira-kira kata Ka Gabriel Charlotte. I know we're both thinking about how cool her name is. Waktu itu aku ada tugas wawancara, dan what a great fortunate to meet Ka Gaby in the Psiko's library. Sitting on the corner, not knowing why she chose such a rural place a pretty girl should not belong in. Headsets were put on her ears. To me, both the corner she chose, her decision to put on headsets, and a book on her palms showed much how introverted she was. But seconds we started talking, selengean was my first impression about her. Like, really, she was a senior three years above me which means this is her last year, or we both hoped so, and she sat in front of me in jigang position (can't find proper English for that) the whole conversation. You wouldn't possibly expect that gesture from an apparently graceful beautiful woman, wouldn't you? But, yeah, don't judge a book by its cover, right? Because in the end of the day, another fortunate sadness came to me as I knew she is currently the president of EDS in this university and at that time I was an upcoming member of that institution and she said "Lucky you to meet me first, kalau gitu nanti lo interviewnya sama gue aja.". Guys.....I know I was wrong with that what-you've-been-up-to question. Again, don't judge a book by its cover, my son.

So, back on the big quote I put on top. Those words had successfully got me captivated in some mysterious ways. Like, really, I contemplated on my way home about what things can actually make me happy...here. I could utter from one to one thousand things that make me happy there, but not here. Just not yet. Then, I thought that I started to rethink replay and recall everything since the day I got here. Things that tickled me, things that saddened me, things I sunk into, things I would love to spend time all day. And after a long time of thinking, here are those little things..

F I F T E E N   RU L E S   O F   H A P P I N E S S

  1. A 10 minute morning walk to a bus stop in Fakultas Teknik (and yeah, I live near FT instead of FPsi).
  2. Spending time reading on a shady bench while waiting for the bus.
  3. Enjoying the landscape view from my bus' window.
  4. Listening to John Mayer or Imagine Dragons along the road, be it walking or when riding a bus.
  5. Having sholat in Masjid Ukuwah Islamiyah (often misspelled by Masjid UI) at peace. It has to be so literally lonely that it feels like I'm just a speck of dust between the galaxy so please see meeee...
  6. Buying tempe mendoan in Masjid UI's cafetaria. 
  7. Another time spent reading in Taman Melingkar at the Central Library. The place will mostly look like this.
  8. Getting lost at Books and Beyond (found an exact pict. yayness!)
  9. Sunset at the edge of the lake.
  10. A night walk to Margonda Raya.
  11. Taking a night train. (photo taken couple days ago after I was about to get struck by one of 'em haha. That 'so close' moment....phew)
  12. Pondok Cina's parking lot. Somehow the scene fascinates me (the picture really represents my point of view). Some of you may ask why would I go to a parking lot of a train station. Well, to get to Detos (search it urself) you have to walk through the parking lot first. Yesh, walk. All hail pedestrians. Go green. Hidup mahasiswa. 
  13. Indomie rebus. I know I shouldn't.
  14. The place I live in, my lovely kosan.
  15. And finally, them.

Well, I think that's all for now. I know that this post should be kept updated because thingssss ahead are waiting for me. I'm yet to explore all of them and will likely love some of them. I would love to abruptly put them on 16th to countless. I haven't even tried sepeda kuning yet, and somehow I believe I'll love it the first time I try haha.


You know that when you move into somewhere new, moreover somewhere you've never been in before, you'll get some kind of awkwardness. Whether it's dealing with the environment or merely with yourself. You'll get bored, you'll miss home, you'll be blue, but that's just the perks of being a wanderer. Those fears are just fogs blocking your sight of breaking the future's secrecy. Because when it comes to the reason why are you here in the first place, it gathers back all the guts and joys inside of you. It renounces again that you matter, your wars of life--they were all worth it.

So I suggest you to also find your little happiness wherever you belong right now. Whenever you feel like there's nothing to be happy about, go get yourself a little walk and see things from a differently brand new perspective. You will find that there's abundance of things to be grateful of; be it a person, a place, a thing, or just simply a thought. I believe that even in our daily routine, we find blessings, we earn something we enjoy doing everyday and not even complaining for it. Hey, I used to give up sports--physical workout thing, and for God's sake I ride motorcycles even just to buy eggs to a neighbor. Now that I walk everywhere, I'm very used to it and I've found blessing of getting healthier than I've ever been before. See? Happiness is everywhere, even on things you don't expect. So if you're not happy....you're just not yet. You will.

6.10.15

Kadang, kemapanan itu membosankan

Kali ini saya akan bercerita mengenai kosan saya. Satu kata untuk mendeskripsikannya: mapan. Kosan saya adalah dunia lain di hiruk pikuk Kukusan. Sangat damai, aman, nyaman, dan mapan. Makanya, setelah rutinitas kuliah dan tugas selesai, kalau kamu ngajak saya keluar untuk nugas lagi, kemungkinan besar akan saya tolak (kecuali kalau kamu ajak main HEHE). Saya bisa betah seharian ngungkung diri di kamar. Yang penting listrik nyala, kosan saya bagai surga. Sejuk, banyak makanan, dan wifi kenceng. Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?

Namun, dibalik nikmat itu muncul satu masalah. Saking nyamannya para penghuni kosan, mereka jadi kebetahan ngumpet di kamar. Pintu mereka hampir selalu tertutup. Saya bahkan baru tahu bahwa ada anak Psikologi yang ngekos TEPAT DI SEBERANG KAMAR SAYA setelah SEBULAN saya ngekos di sini. Kan, tau gitu bisa berangkat barengan biar capeknya jalan nggak kerasa, ada teman main, teman makan, teman ngerjain tugas ospek (iya dulu aku suka stres sendiri kalau lagi ngerjain tugas ospek), teman nyuci (this is so important bicoz basically nyuci isn't something you would possibly want to do on weekends, godaan laundry itu segitu hebatnya), dan barangkali bisa jadi teman dekat. Itu aja kami ketemunya nggak sengaja gara-gara pas malem saya lagi masak Indomie di dapur dekat kamar dan dia, sebut saja Jojo, baru pulang dari kampus kayaknya. Dia masih pakai jaket kuning waktu itu (peraturan masa inisiasi, di Psiko specificly we call it Agoge Period) dan our eyes met and we were like...

"Lo anak psiko ga sih?!"
"Iya, lo juga, kan?!"
"Oh my god kita sering sekelas!!"
"Oh my god iya!!"
"Kamar lo mana?!" dengan nada sedikit menodong. Kemudian dia menunjukkan kamarnya dengan telunjuknya. Kemudian aku menunjukkan kamarku dengan telunjukku.
"OH MY GOD JADI SELAMA INI ..."
"Pantesan kemarin gue lihat jakun makara biru muda dijemur disini!!"
"Iya itu punya gue.... oh God oh God besok-besok berangkat barengan aja yuk!"
"Iya iya sumpah gue seneng banget akhirnya punya temen hahahah"
"Iya gue juga hahahah"

Dan...ya. begitulah kira-kira percakapan kami malam itu.

See? People barely set out from their comfort zones. Even I, who religiously preach myself to stay out from my comfort zone, eventually got caught up inside it. Kadang, mengingatnya bikin saya malu harus makan kata-kata sendiri. Ya mau gimana pun juga, harus ngaku bahwa sejatinya saya sekuper dan se-nggak kenal itu sama lingkungan tempat saya tinggal. Which actually got me thinking, sesuatu yang sempurna itu ternyata membosankan. Karena ketika sesuatu sudah sempurna, ia tidak memiliki ruang untuk diisi oleh hal lain. Dalam hal kosan ini, dengan berada di kamar rasanya sudah sangat sempurna sehingga saya tidak perlu pergi keluar untuk mencari ini-itu. Ujung-ujungnya, saya jadi sangat kesepian seperti sekarang ini. And now you know, menjadi sempurna se-membosankan itu.

Meskipun ada satu-dua yang saya kenal, namun mereka sibuk dengan urusan mereka di kamar mereka masing-masing. Kosan saya bagaikan sebuah dunia, dan pintu-pintu kamar penghuninya adalah gerbang menuju dunia-dunia lain yang lebih besar--entah bagaimana. Kadang timbul suatu keberanian untuk mengetuk pintu, sekedar untuk mengajak makan malam atau berangkat bersama. Namun, tepat didepan pintu itu niat saya menciut. "Kalau mereka nggak sibuk, pasti pintunya kebuka dong..". Jadi, seringkali niat itu saya urungkan dan I ended up being a slight loner. Kemana-mana sendirian. Dan by the way, Jojo dan Nana (teman yang berhasil dekat, sebenarnya) sekarang sudah pindah kosan. Meninggalkan saya yang semakin sendirian. Namun apa daya, itu adalah hak mereka. Mungkin mereka mencari tempat lain yang lebih tidak sempurna. Mungkin mereka ingin jadi pelengkap ketidaksempurnaan itu. Atau mungkin alasan lainnya, saya tidak tahu.

Jadi, haruskah saya berlari mencari ketidaksempurnaan juga? Bagaimana menurut kalian?


Rahasia Bulan Empat

Jadi, hai lagi, Kamu. Biasanya kita jumpa di tulisan saja, ya. Menjadi terasa aneh ketika akhirnya harus bertegur sapa. Canggung, mungkin itu kata yang tepat. Malu-malu kau palingkan wajahmu, dan aku hanya duduk disana. Menyimak, menikmati keindahan sesaat.  Meski gelap, meski gemuruh. Kemudian muncul kabar dari seorang teman lama. Waktu pun kutipu demi membacanya. Meski mahal kesempatan ini kubeli. Sedetik selanjutnya, aku tersipu sendiri mengeja kata. Adakah kau saksikan? Adakah kau rasakan?

Getar itu.
Nyata meski malu-malu.
Bagai sosok yang pergi, lalu minta dikejar.
Sesederhana itu.

Kamu adalah, bahasa kentara yang takkan kuterjemahkan. Kubiarkan menari-nari, bergejolak liar menggerayangi tubuhku. Kau ‘kan lihat resahmu sirna, sedang bahagia dan dosa tiada bedanya. Kau ‘kan temui
                Aku
di celah waktu penuh harimu,
bersamanya.

Aku pun bahagia, dengan sederhana. Sebab akulah yang pernah kau sambangi ketika dunia beranjak membosankan. Ketika berlari melelahkan, dan ketika hidup hanya menuai peluh. Dapatlah kiranya aku ini kedai kecil di tepi jalan bagi seorang perantau yang kelelahan. Dan dapatlah kiranya kita ini, adalah malam yang kau curi, yang berakhir pada percakapan singkat-singkat, juga secangkir kopi. Hangat. Hingga sanggup dirasa jantungmu.

Begitu seterusnya.

Cukup lama hingga kau sadari aku hanya semu dan sementara. 


Empat, Dua Ribu Lima Belas

23.9.15

Takbir pertama di perantauan

Puasa hari ini sukses. Saya menyelamati diri saya sendiri yang telah menjalani puasa dengan baik meski tadi sahurnya kepotong azan Subuh. Haha, nggak apalah. Pengalaman. Jadwal kuliah yang padat serta segunung tugas mulai dapat saya syukuri. Dengan demikian, waktu berlalu begitu cepatnya hingga tiba-tiba sudah azan Maghrib saja. Suara takbir mulai diserukan di segala penjuru Kukusan. Menimbulkan rasa haru sekaligus nelangsa dalam hati. Biasanya, saat-saat seperti ini, saya tidak di kamar sendirian. Tidak menulis blog post, tidak meneteskan air mata sedih, dan tidak merindukan siapa-siapa. Basically, saya tidak pernah sekalipun merasa kesepian saat malam hari raya selama ini. Saya selalu sedang berada di dapur Mbah Uti, bersama Ibu, tante, mbak-mbak, dan mbah-mbah serta adik-adik saya, ramai-ramai memasak makanan takjil untuk dibagikan kepada jamaah shalat Ied keesokan harinya. Usai memasak, saya berkumpul dengan keluarga di selasar rumah joglo Mbah Uti, menyaksikan parade kembang api gratis di langit malam Desa Ngunut yang selalu cerah. Tidak pernah sekalipun langit Ngunut bersedih pada malam hari raya seperti malam ini. Dan mengingat segala hal tersebut, saya jadi lara sendiri. Ternyata, konsekuensi dari pilihan yang saya buat sebesar ini. Hidup saya berubah sedrastis ini hingga bisa saya rasakan saya yang sekarang bukanlah saya yang dulu. Saya menyadari bahwa merantau tidak semudah mengucapkannya. Menjadi perantau sama seperti berkelana dengan membawa tas ransel dimana pahit-manis masa lalu kamu letakkan di kantung-kantung kecilnya dan kamu sisakan ruang besar untuk pengalaman-pengalaman dan perasaan-perasaan baru. Perasaan yang ada dalam hati s saat ini adalah perasaan yang sepenuhnya baru. Saya harus terbiasa dengan rindu kampung tak terbalas semacam ini mau tidak mau. Saya berdoa, semoga bisa. Dan memang harus bisa. Saya sangat merindukan keluarga dan kucing saya saat ini. Semoga malam hari raya mereka masih indah meski kurang satu personil. Semoga mengingat saya tidak lantas membuat mereka bersedih.

10.9.15

Cukur (2014)

Rediscovering my old unreliable stuffed up cellphone that always says "Not enough memory", my eyes got this.

Dia kembali dengan senyuman,
lebar
Di kejauhan,
wajahnya berseri-seri
menuruni tangga
diiringi matahari siang hari 
Kemudian,
malu-malu ditunjukkannya
cukuran barunya

Aku pun tertawa

Enggan berkata,
sesungguhnya ia tampan juga

Ia menghambur padaku,
lalu kuikatkan ke tiang pancang
semoga tak lepas-lepas